Kesehatan Menentukan Status Miskin

Posted on 17/04/2009. Filed under: ARTIKEL |

Status kesehatan individu sangat menentukan seseorang dikategorikan miskin. Seseorang yang sakit walaupun memiliki pekerjaan bisa masuk kategori miskin.

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Amelia Meika S.Sos, MA menyatakan status kesehatan, tingkat pendidikan tersebut merupakan faribel yang penting untuk menentukan kemiskinan secara subjektif.

Bicara dalam Seminar ‘Mengukur Kemiskinan Subjektif di Indonesia’, di Gedung Masri Singarimbun UGM, Jumat (20/2), dia menyatakan kemiskinan tidak hanya diukur dengan mengukur variabel objektif.

Menurut dia variabel kemiskinan subjektif perlu mendapat perhatian dalam menentukan status sosial. Selama ini ukuran miskin selalu dilihat dari kondisi nyata fisik tanpa ditelaah latar belakang seseorang miskin atau tidak miskin.

Pengajar sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM, menyatakan mengukur angka kemiskinan dengan mengutamakan standar hidupnya sama pentingnya mengukur kemiskinan dengan kondisi obyektif seseorang.

Menurutnya kondisi moneter bukan alasan tunggal seseorang atau rumah tangga miskin. Seseorang hidup dalam rumah tangga memiliki pendapatan atau pengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan bisa saja tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak miskin.

Tingkat pendidikan dan status kesehatan justru berpengaruh sangat menentukan kemiskinan seseorang.

Seseorang dengan pendidikan tinggi, dengan status mahasiswa atau pelajar akan menganggap tidak miskin walaupun tidak memiliki pekerjaan. Sebab tidak memiliki tanggungan ekonomi terhadap keluarga.

Sebaliknya seorang dengan status kesehatan tidak bagus atau menderita sakit walaupun memiliki pekerjaan bisa merasa miskin. Ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari, menyebabkan orang merasa miskin atau potensi miskin sebab tidak dapat bekerja.

“Saat mereka berada pada level kesehatan tertentu dan bisa melakukan berbagai kegiatan, maka akan mengganggap dirinya bukan termasuk orang miskin,” kata dia.

Dengan melihat kondisi subjektif individu, maka mengukur kemiskinan bisa lebih cermat dan lengkap.”Kemiskinan subjektif merupakan indikator penting untuk mengukur kesejahteraan,” ujar Amalia.

(Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=60353)

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: