Kerebritis, What a hell is that?!

Posted on 17/04/2009. Filed under: KEREBRITIS |

Kerre Neper dai

Kerre Neper dai

Sebelum membaca kumpulan cerita Kerebritis, ada baiknya memahami terlebih dahulu apa itu selebritis, dan mahluk apa pula yang disebut kerebritis.

Selebritis menurut Wikipedia:
Kata majemuk yang berasal dari Bahasa Inggris Celebrity (Kata benda). Secara etimologi kata ini berasal dari bahasa Perancis kuno : célébrité.
– a person who has a high degree of recognition by the general population;
– fame
– the quality of being a famous person
– Seseorang yang memiliki derajat tinggi karena dikenal oleh masyarakat luas,
– Terkenal
– Kualitas yang di dapat karena menjadi orang terkenal.

Sedangkan Kerebritis menurut EYD (Ejaan Yang Dimaklumi) adalah :
Kata majemuk yang berasal dari asal bahasa campuran, Jawa dan Bahasa Inggris yang sudah di adopsi menjadi bahasa Indonesia.
– Seseorang yang memiliki derajat rendah karena melarat, atau miskin alias kere di lingkungan masyarakat manapun.
– Tidak terkenal. Kalaupun terkenal karena banyak hutang yang tak mampu dibayarnya.
– Kualitas hidup yang mau tak mau harus dipikul akibat menjadi orang melarat, atau miskin alias kere.

Kerre tapi mboiss..

Kerre tapi mboiss..


Definisi tambahan dari penulis:
Kerebritis adalah seorang kere yang berlagak dan merasa menjadi selebritis. Mungkin karena memang ada kemiripan antara keduanya.

Kaos para kere compang-camping, penuh lubang, sekilas mirip T-Shirt & Apparel produk Volcom atau Billabong. Celananya sobek di bagian dengkul, mbladus alias pudar warnanya, bolong bagian dekat pantat, sekilas mirip dengan merek Levi’s Strauss atau jeans denim lain yang sering dipakai artis.

Tapi jangan keliru, kalau lubang dan kain tambalan produk Volcom memang konsep dari pabrik. Sementara lubang dan compang-camping baju para kere bukan dari pabrik, bukan pula beli di gerai CitySurf. Semua itu di dapat dari petualangannya sebagai insan kere. Lubangnya mungkin dari percikan bara api kretek Retjo Pentung, sobeknya mungkin dari kecantol kawat atau saat nggandol truk sampah. Warna pudar alias mbladus karena memang cuma punya satu dan dipakai terus-terusan. Tambalan dari kain seadanya dan hampir pasti nggak matching dengan warna baju asalnya. Karena pertimbangannya bukan mode, tapi biar tidak masuk angin dan kelihatan panunya.

Jika ketemu para kere dan melihat rambutnya, jangan menuduh rambut mereka sok dibentuk acak-acakan ke atas. Itu karena memang jarang keramas dan ndak gablek buat beli sisir. Mereka nyisir rambut cuma waktu ada undangan bancakan kampung. Itupun nyisir rambutnya pake garpu.

Apa para kere tidak pernah keramas atau creambath? Oh tentu saja pernah. Tapi keramasnya ndak pernah pake shampoo, melainkan pake sabun colek atau sabun batang yang tadinya dipake mandi. Creambathnya gimana? Kalau kutu di rambut sudah makin parah, mereka bahkan creambath pake minyak tanah. Kata mereka, biar kapok para tumo-tumo ngelamak itu.

Jangan tertipu kalau lihat mereka pake kacamata super gede, memang gayanya begitu. Pinginnya sih dianggap mirip David Naif atau bahkan Elton John. Padahal paling banter mirip Mus Mulyadi atau bahkan mirip Cak Markeso. Lihat baik-baik, gagang kacamatanya itu sebenarnya sudah diikat kawat.

Soal alas kaki?
Lhaaa…ini salah satu weak point alias kelemahan para kerebritis. Mereka jarang hapal merk sepatu mahal. Karena itu mereka sering tertipu saat beli sepatu di Pasar Kaget. Merk Egel dikira sama dengan merk Eagle, merk Niko disangka sama dengan merk Nike. Poma dianggap sama dengan Puma, Pila dianggap sama dengan Fila. Blegernya sih serupa, tapi harganya beda jauh. Bagaikan langit dan comberan di bumi.

fuma-s700x525-2961-580

Beruntung kerebritis itu belum terlalu banyak update mode sepatu belang blonteng a la ABG Gaul yang menggabungkan sepatu Converse warna merah di kaki kiri, sementara sepatu Airwalk warna hitam di kaki kanan. Coba kalau mereka sudah tahu, wah pasti makin besar kepala dan makin pede pake sepatu sisian.

Tahukah anda, mereka pake sepatu atau sandal sisian itu karena memang sering kali kehilangan alas kaki. Sepatunya sering digondol tikus karena bau terasi lantaran ndak pernah pake kaos kaki. Kalau disalahkan ndak mau. Katanya, daripada dibelikan kaos kaki, mending buat beli beras. Lha wong bisa punya sepatu itu saja karena hasil pemberian seorang kenalan. Sepatu pemberian itu saja sudah mengap. Jadi harus dijahit dulu.

Kalau bukan digondol tikus, alas kaki mereka pasti hanyut oleh banjir. Kalau tidak begitu, pasti nyangsang di genteng sehabis buat nyambit kucing yang nekad nyolong ikan asin satu-satunya milik mereka.

adadis-s400x289-2960-580

Nah, jika sudah tahu ternyata penampakan para kere mirip selebriris, mulai sekarang tolong jangan under estimate sama mereka. Jangan cuma melototi gaya dan ngikuti trend setting dari kaum selebritis saja. Karena sebenarnya, mode dan gaya selebritis itu lah yang imitatif alias nggak orisinil. Bersifat temporer dan bukan penanda keaslian kondisi nasib hidup yang sejati.

Tatto para selebritis misalnya. Itu cuma penanda kegenitan mereka pada trend fashion. Coba bandingkan dengan tatto di lengan Cak Slamet Korak, pasti beda. Yang selebritis, tattonya bikin di kios tatto yang kini marak di plaza-plaza. Karena bayar, mereka pun punya kebebasan buat milih model dan gambar tattonya.

Sementara Cak Slamet Korak ndak bisa milih. Dia ‘terpaksa nurut’ ditatto gambar sekehendak hati korak yang lebih senior waktu di bui. Salah dia sendiri, sudah kere kok pake nambah status jadi maling ayam. Itu yang tatto mawar. Kalau tatto cicak, itu didapat pas ketangkap basah nyolong jemuran.

Lama-lama Cak Slamet Korak merenung, kalau terus-terusan keluar masuk bui, wah bisa penuh kulit badannya dengan gambar tatto binatang yang sama sekali nggak serem. Ada tatto kadal, tatto nyambik, tatto kodok, tatto lalat, tatto kecoa, tatto tokek dll.

Padahal dia kan korak alias jagoan. Mosok korak kok tattonya mawar? Bajingan kok tattonya kadal? Calon korban atau orang yang lihat tattonya pasti ndak takut kalau lihat tatto kadal atau tatto kodok. Bahkan bisa jadi mereka malah ketawa.

Pernah suatu kali, ia request tatto macan atau naga. Langsung kepalanya dikeplak sama para korak senior. Kata mereka, tatto macan itu untuk bajingan yang sudah berani bunuh orang. Kalau tatto naga, itu bahkan buat bajingan yang berani bunuh bajingan.

Cak Slamet korak langsung mengkeret. Jangankan bunuh orang, sama tikus got yang besarnya sama dengan kucingnya saja, dia langsung mengkirik. Mungkin karena itu dia milih insap. Bukan insaf, tapi insap.

Kalau insaf itu buat orang yang berhenti melakukan kejahatan sekaligus sudah mau sembahyang. Kalau insap, itu buat pensiunan maling seperti dia, tapi belum sembahyang. Ini definisi asli dari dia sendiri, bukan definisi
MUI.

Cak Slamet Korak khawatir kalau dia insaf, sudah sembahyang lalu tiba-tiba kambuh lagi watak malingnya. Lantaran digoda nasib kerenya, habis sembahyang keluar masjid terus nyangking selop orang lain kan ndak lucu? Tapi menurut pengakuan dia, sistem tatto menatto di bui itu kurang adil. Nyolong jemuran saja ditatto cicak, nyolong sepeda ditatto kadal, lha orang yang nyolong anggaran belanja negara alias korupsi di tatto apa? Apa di tatto gorilla? Di tatto brontosaurus?

Harusnya di kulit para koruptor itu di tatto gambar wong kere saja. Biar setiap ngaca, mereka selalu ingat kepada siapa mereka berdosa. ***

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: